,

Yayasan Empatiku bersama SEAN-CSO menggelar Workshop Rehabilitasi & Reintegrasi Berbasis Komunitas

Yayasan Empatiku bersama SEAN-CSO menggelar Workshop Rehabilitasi & Reintegrasi Berbasis Komunitas

Yayasan Empatiku bekerjasama dengan SEAN-CSO (South East Asia Network for Civil Society Organisations) dan anggotanya dari Peace Generation-Indonesia, Iman Research-Malaysia, Australia Multicultural Foundation (AMF)-Austalia melaksanakan workshop bertemakan Community Based Rehabilitation and Reintegration against Violent Extremism pada tanggal 13-15 Agustus 2024 di Yogyakarta yang melibatkan 40 peserta mewakili lembaga anggota dari Philipina, Malaysia, Singapore, Thailand, Indonesia dan Australia.

Workshop tahun ini ditujukan untuk (1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota khususnya dalam menerapkan Rehabilitasi & Reintegrasi Berbasis Komunitas (CB RR) secara efektif dan berkelanjutan; (2) mengembangkan Kerangka Alat Penilaian Risiko dan Kebutuhan; dan (3) mengembangan rencana aksi kolaboratif antar anggota di Asia Tenggara paska workshop.

Empat topik besar dibahas dalam tiga hari workshop CB RR yang dikemas secara partisipatoris guna memaksimalkan pencapaian tujuan. Pada hari pertama pembahasan pada topik pertama dimana peserta diajak untuk mengidentifikasi resiko violent extremism (VE) dan sejarah gerakan VE di masing-masing negara dan di Asia Tenggara, termasuk melalui studi kasus, peserta mencoba mengidentifikasi tanda peringatan dini. Memahami tantangan dan peluang peningkatan kesadaran masyarakat, peserta berbagi pengalaman tentang upaya-upaya peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat.
Pada hari kedua, peserta membahas tentang bagaimana melakukan managemen kasus di tingkat komunitas yang dilanjutkan dengan mengidentifikasi tantangan-tantangan di beberapa negara. Peserta kemudian berdiskusi tentang bagaimana membangun kerangka penilaian resiko dan kebutuhan serta protokol keselamatan dan keamanan bagi para petugas CSO.

Pada hari ketiga, peserta diajak untuk membahas peluang-peluang kegiatan kolaborasi paska workshop antara lain proses pengembangan alat bantu pembelajaran elektronik (e-learning tool) CB RR yang diangkat dari pengalaman-pengalaman peserta di lapangan. Peserta juga diarahkan untuk mengajukan proposal ke SEAN CSO terkait aplikasi hasil pembelajaran workshop.

Pada akhir workshop peserta berkunjung ke Rumah Komunitas Omah Betakan yang dikembangkan oleh Noor Huda Ismail sebagai founder dari Yayasan Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP). Omah Betakan dirancang sebagai sebuah guest house sekaligus tempat belajar bagi para ex-napiter dan komunitas setempat untuk sama-sama saling membangun keberdayaan. Dengan mengedepankan Head, Hand, Heart (3H), Noor Huda percaya dengan mengajak berpikir (Head), menerima seperangkat keterampilan guna menopang ekonomi dan hobi (Hand), akan menyentuh hati (Heart) mereka untuk kemudian bisa lebih bertoleransi terhadap banyak perbedaan di lingkungan sekitar.

Seluruh peserta sangat positif terhadap hasil workshop dan berharapan dapat berkumpul kembali dengan kegiatan atau media tukar pikiran lainnya.”

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *